Breaking News

Nasional

Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts
Showing posts with label Kajian Islam. Show all posts

Tuesday, November 27, 2018

November 27, 2018

Caleg Istiqomah

MuslimOnline.Id -

Oleh : Syaifuddin Zuhri, sekretaris Bidang Ekonomi Fosil BKM Medan dan sekitarnya, dan pengurus Masjid Al ikhlas Jalan Madiosantoso Medan

Ada pertanyaan yang harus nya menggelitik seorang muslim, yaitu apakah jika Prabowo Sandi menang, lantas kita akan aman dan mulus memperjuangkan kemaslahatan umat? Bagaimana jika DPR-RI di kuasai oleh orang orang yang berseberangan dengan Prabowo Sandi?

Akhir akhir ini, saya melihat, kok kita terlalu fokus ke capres, lupa sisi lain yang tak kalah penting, yaitu anggota legislatif. Bukan berarti kita melupakan capres, tapi proporsi perhatian ke anggota legislatif yang nantinya sangat besar pengaruh nya, seolah tenggelam oleh gegap gempita capres.

Seperti kita ketahui, demokrasi di Indonesia, sebagaimana demokrasi asal, berdasarkan Trias politica, legislatif, eksekutif dan yudikatif. Antara legislatif (DPR) dan eksekutif (Pemerintah) harus saling menguatkan, jika ingin mengamankan agenda program kerja. Jika eksekutif tidak didukung legislatif, maka dia akan kelimpungan menjalankan roda pemerintahan.

Hal hal yang berkaitan dengan pembahasan undang undang, keputusan strategis bangsa, seperti tentang pernikahan sejenis (misalnya keberadaan LGBT), itu memerlukan perjuangan legislatif, jika kalah, maka LGBT akan resmi di Indonesia oleh para legislator yang sepaham dengan LGBT.

Di tingkat daerah, kita memerlukan legislator yang kuat, agar Perda Syariah atau menjaga kemurnian ajaran Islam dapat di perjuangkan. Budaya syirik yang selama ini menjadi bagian acara resmi di sebuah kabupaten misalnya, Larung sesaji di laut, yang ada di berbagai daerah, gimana itu dapat di hapus dalam acara acara resmi

Belum lagi kita bicara tentang pendidikan anak-anak muslim yang harus diperkuat dari sisi aqidah, ekonomi yang masih riba, makanan haram yang masih leluasa beredar, hukuman narkoba yang masih terlalu ringan, dll. Jika kita mempunyai legislator yang kuat, insya Allah aspirasi kita akan dapat mereka perjuangkan.

Caleg Istiqomah

Caleg seperti apakah yang dapat memperjuangkan aspirasi kita? Allah menyebut satu kriteria yang sangat pas untuk kita panuti, yaitu keistiqomahan. Apa itu Istiqomah?

Pengertian Istiqomah
Menurut syari’at, istiqâmah adalah meniti jalan lurus yaitu agama yang lurus (Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqâmah mencakup melakukan seluruh ketaatan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang Allah azza wajalla.

Allah SWT berfirman

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup (al-Jinn :72:16)

Menurut para mufassir, yang di maksud dengan air dalam hal ini adalah rezeki, tumbuhan yang subur, kemaslahatan, kemakmuran dll. Artinya, jika seseorang muslim yang istiqamah, maka dia akan mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya dan orang sekitarnya.

Allah berfirman di ayat lain

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ * أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Al-Ahqaf: 13-14)

Orang yang istiqamah, tidak akan pernah takut pada manusia, mereka hanya takut kepada Allah SWT semata. Jadi apabila DPR-RI hingga DPRD provinsi, kota dan kabupaten dipenuhi oleh legislator istiqamah, maka Islam akan mereka bela mati matian. Kita sangat membutuhkan legislator yang istiqamah, karena insya Allah mereka akan menjaga Marwah agama Islam di manapun mereka berada.

Lalu, bagaimana menyeleksi mereka? Awali dari partai nya, karena partai punya platform seperti PDIP, PSI, sudah jelas jauh dari nilai islam platform nya. PDI-P bahkan punya track record menghambat nilai nilai Islam. Lalu jika platform partai nya Islam, pelajari *track record* nya, apakah selama ini, partai tersebut Istiqomah memperjuangkan Islam. Terakhir, kenali track record si caleg. Apakah dia punya perjalanan hidup yang istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam.

Dengan kita memperkuat legislator yang istiqamah mulai dari DPR-RI hingga DPRD provinsi, kota dan kabupaten, insya Allah, perjuangan kita akan dapat dengan mudah kita capai. Karena mereka akan menjaga dirinya dari yang di murkai Allah SWT.

ingat baik baik

Umat Islam harus menyadari, saat ini sedang di goreng, di aduk aduk, di adu domba, dipecah belah, agar suara kita dapat mereka raih. Mereka berusaha mencitrakan partai Islam dan caleg Islam tak pantas di dukung. Lalu, disamping itu mereka sangat fokus meraih suara dengan kekuatan dana dan strategi yang bagus, solid dan terukur. Akhirnya, sedikit demi sedikit mereka meraih suara umat Islam. Oleh karena itu, inilah saatnya kita berjuang habis-habisan, jika tidak, lima tahun ke depan, kita akan menderita. Umat Islam akan semakin carut marut di Indonesia

So, gegap gempita capres, kita tetap fokus memenangkan Prabowo Sandi yang sudah sesuai ijtima' ulama, tetapi jangan lupa, kita harus memperjuangkan anggota legislatif sebanyak mungkin di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Intinya, kuasai legislatif, insya Allah, aspirasi umat Islam akan dapat kita realisasikan. Insya Allah

Wallahu a'lamu bishowab

Monday, October 29, 2018

October 29, 2018

Perubahan: Niat & Usaha

Perubahan adalah hal yang mungkin dilakukan. Setiap orang, kelompok, organisasi, bahkan bangsa bisa melakukan perubahan. Mereka dapat mengubah diri dan posisi serta peran di dalam lingkungannya. Dari Asian Para Games 2018 kita bisa belajar, mereka yang berbeda kemampuannya pun bisa mengubah diri menjadi berprestasi dan berperan lebih di masyarakat asal mau bekerja keras.

Perubahan adalah keniscayaan. Agama Islam juga mengajarkan tentang perlunya manusia terus berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d: 11)

Namun, perubahan juga bukan hal yang gampang untuk dilakukan. Ambil contoh yang sederhana. Pada awal kita membiasakan diri puasa sunnah Senin-Kamis, atau mulai berolahraga secara rutin, atau mengatur pola makan yang lebih sehat, pasti kita memasuki fase transisi yang tidak mudah. Mungkin badan terasa lemas, kepala pusing, tidak bisa konsentrasi, dan keluhan lainnya. Namun, jika kita yakin dengan niat kita, clear dengan tujuan yang akan kita capai, biasanya turbulensi di masa transisi itu bisa kita lewati.

Begitu juga dalam konteks bangsa. Ketika bangsa Indonesia memilih meninggalkan sistem otoriter Orde Baru, sebagian masyarakat mengeluh ketidakteraturan yang merebak di masa transisi, mulai dari konflik sosial, kebebasan pers dan masyarakat sipil yang dirasa kebablasan, hingga premanisme dan kriminalisme yang merebak. Seolah semua debu dan kotoran yang selama ini disimpan di balik permadani kini menyeruak. Namun, apakah dengan semua kekacauan itu, kita ingin kembali ke sistem otoriter, ke masa lalu yang seolah indah namun tanpa kebebasan?

Bangsa ini telah memilih. Meminjam untaian kata Taufiq Ismail dalam puisi berjudul Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini (1966), bangsa Indonesia berkata pada dirinya sendiri: kita harus berjalan terus, karena berhenti atau mundur, berarti hancur. Dengan segala ketidaknyamanan, konflik, dan perdebatan, kita memutuskan membangun sistem baru yang lebih demokratis dan lebih terbuka demi tercapainya tujuan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian juga dalam organisasi. Kita membaca berita tentang Nokia, telepon genggam sejuta umat, atau Kodak, raja teknologi fotografi dan perfilman yang berdiri pada 1888 di Amerika, yang kini bersusah payah bangkit dari keterpurukan akibat terlambat berubah atau gagal mengantisipasi perubahan. Keduanya bahkan harus “mati suri” sebelum akhirnya dapat bertahan hidup walau dengan ukuran dan keunggulan yang jauh dari kondisi ketika menjadi raksasa di bidangnya.

Perubahan Bisa Gagal

Perubahan organisasi adalah kajian yang sangat menarik sampai-sampai ada profesor Harvard Business School yang berkutat mengkaji bidang ini, namanya Profesor John Kotter. Salah satu buku Kotter yang menarik dan mungkin paling populer adalah Leading Change. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Menurut Kotter, salah satu yang membuat organisasi gagal adalah tidak ditanamkannya perubahan sebagai bagian dari budaya organisasi (dalam konteks bisnis tentunya yang dimaksud adalah perusahaan). Sebaliknya, organisasi yang menanamkan perubahan sebagai bagian dari budaya akan lentur dan adaptif tanpa meninggalkan visi luhur organisasi itu. Jadi, jika kita percaya bahwa perubahan adalah keniscayaan, maka praktik dalam organisasi yang selama ini dijalankan bukanlah sesuatu yang sakral. Status quo menghambat dinamika dan inovasi organisasi, yang akhirnya melahirkan organisasi yang lamban dan gagap.

Kotter juga mencatat pentingnya visi dalam suatu organisasi. Visi adalah narasi tentang masa depan yang akan kita raih, tentang suatu keadaan yang lebih baik yang ingin kita wujudkan dengan adanya keberadaan kita, tentang makna kehadiran organisasi di dalam suatu lingkungan strategis.

Sebaliknya, menurut penelitiannya, organisasi yang merendahkan (underestimate) kekuatan visi, tidak cukup mengomunikasikan visi, dan membiarkan munculnya hambatan bagi anggota organisasi memahami visi, akan terjebak dalam kenyamanan semu. Memahami visi di dalam organisasi membutuhkan dinamika  dan dialektika gagasan. Jika visi tidak dibenturkan dalam diskusi yang sehat, ia hanya akan menjadi kata-kata indah dalam bingkai cantik di ruang rapat.

Titik paling krusial dalam melakukan perubahan adalah membuat sense of urgency untuk berubah di dalam organisasi. Apalagi di dalam organisasi yang merasa berhasil dengan cara yang dilakukan selama ini. “Ini cara yang membuat kita sukses, buat apa berubah?” Atau ada ungkapan dalam bahasa Inggris: If it’s not broken, don’t fix it. Apalagi jika cara dan budaya yang selama ini berlaku memberikan keuntungan bagi pihak tertentu di dalam organisasi.

Tantangan dalam meyakinkan sense of urgency adalah, seorang pemimpin perubahan harus meyakinkan anggotanya bahwa status quo sekarang ini lebih berbahaya dari situasi baru yang belum kita ketahui. Ia harus menjawab keraguan: apakah pasti kita akan lebih baik dengan melakukan perubahan? Apa jaminannya? Kotter memberi ukuran, paling tidak 75% dari pemimpin dan pemimpin madya organisasi harus merasakan situasi genting untuk berubah, baru perubahan bisa bergulir. Perubahan sering gagal di titik ini ketika pemimpin tidak berhasil mengajak orang keluar dari zona nyaman, apalagi jika ia menjadi bagian dari yang menikmati kenyamanan itu.

Bukan Antagonis

Saya berbeda dengan Kotter dalam hal mengomunikasikan perubahan. Setelah meyakinkan sense of urgency, Kotter menyarankan dibentuknya “koalisi perubahan” dalam skenario protagonis versus antagonis dengan situasi dan cara lama. Dibayangkan seolah koalisi perubahan (yang dalam konteks perusahaan sering disebut change taskforce atau change management office) adalah ksatria baik yang akan menyelamatkan organisasi dari cengkeraman status quo jahat. Memang kadang masalah perlu disederhanakan agar mudah dimengerti orang banyak, namun pemimpin tidak boleh terjebak dalam pandangan hitam-putih yang simplistis.

Bagi saya, perubahan dalam organisasi bukanlah soal benar-salah atau baik-jahat, melainkan soal relevan-tidak relevan. Apakah cara kerja kita selama ini relevan dengan lingkungan strategis yang selalu dinamis? Apakah cara kita selama ini telah mengoptimalkan potensi insani di dalam organisasi? Kita memilih meninggalkan cara kerja dan budaya lama karena itu sudah tidak relevan lagi dengan situasi sekarang dan sudah tidak efektif lagi untuk mencapai tujuan kita.

Pendekatan antagonis membuat perubahan menjadi sesuatu yang subyektif. Ini kontraproduktif dengan niat perubahan itu sendiri. Syarat perubahan berhasil adalah pembacaan yang jernih dan obyektif terhadap situasi eksternal dan internal. Apakah pilihan strategi kita dalam menjalankan organisasi dan merespons suatu perkembangan tepat dan memberikan hasil?

Pendekatan antagonis yang subyektif juga membuat kita berkutat pada “mengapa kita berubah”, bukan bagaimana berubah dan ke mana arah yang dituju dengan perubahan ini. Padahal, kembali ke pendapat Profesor Kotter, masalah mengapa berubah hanyalah satu dan bagian awal dari perjalanan perubahan yang panjang.

Akhirnya, tantangan terbesar dalam melakukan perubahan ada di fase akhir manajemen perubahan, yaitu menginstitusionalkan cara dan budaya baru ke dalam arah baru yang akan ditempuh organisasi ke depan. Transformasi adalah proses, bukan event. Dalam perjalanannya akan ada godaan untuk mempercepat proses, melongkapi tahapan yang harus dilalui, tapi sejarah telah mengajarkan, jalan pintas tak pernah berhasil.
October 29, 2018

Arah Baru Indonesia

anis matta malaysia3Pada tahun ini, reformasi berusia 20 tahun. Momentum sejarah itu menandai berakhirnya satu fase dalam perjalanan panjang sejarah kita, yaitu fase membangun negara-bangsa modern sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pada fase itu, Indonesia melakukan trial-error sistem dan tatanan pengelolaan negara. Setelah 72 tahun, kini kita mulai menemukan keseimbangan baru dalam bingkai negara-bangsa modern.

Masih banyak pekerjaan rumah menumpuk untuk dituntaskan agar kita berhasil menjadi negara-bangsa sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa kita. Arah ke depan harus segera dirumuskan agar kita tidak larut dalam tarik-menarik dan dinamika geopolitik global yang memanas. Untuk itu, kita perlu arah baru Indonesia.

Untuk mengetahui arah baru itu, kita perlu mengetahui di mana Indonesia sekarang. Pada 2013 saya menulis buku Gelombang Ketiga Indonesia sebagai usaha melihat Indonesia dalam skala waktu yang panjang dengan analogi gelombang sejarah, bukan sekadar jepretan foto (snapshot) sesaat.

Gelombang sejarah

Gelombang pertama terjadi sejak penjajahan di Nusantara hingga proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Di situ kita mengalami dua transformasi besar, yaitu transformasi identitas dari etnis menjadi bangsa, dan transformasi politik dari kerajaan-kerajaan kecil menjadi negara republik. Yang menarik, bangsa Indonesia telah lahir jauh sebelum berdirinya negara Indonesia merdeka. Butuh waktu cukup panjang, mulai dari hingga 1945 untuk merealisasikan gagasan kebangsaan menjadi wujud suatu negara merdeka.

Salah satu tonggak sejarah yang menarik adalah dipilihnya bahasa Indonesia sebagai “bahasa persatuan” dari bangsa yang baru lahir itu. Bahasa Indonesia diserap dari bahasa Melayu yang mengandung spirit demokrasi dan egalitarian dalam strukturnya. Tidak ada hierarki (ngoko-kromo seperti bahasa Jawa) dan juga tidak ada dimensi waktu (past-present-future). Sedikit banyak pemilihan ini dipengaruhi hasrat ingin bebas dan setara dengan manusia bangsa-bangsa lain.

Setelah memproklamasikan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat, kita memasuki gelombang kedua yang berisi usaha membangun negara-bangsa modern. Rentang waktu ini diisi oleh sejumlah eksperimen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari era Sukarno, Soeharto, hingga Reformasi. Semua eksperimen dan pilihan itu tidak terlepas dari kondisi global saat itu. Warna utama pada separuh gelombang itu adalah Perang Dingin sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga runtuhnya Tembok Berlin, hancurnya Uni Soviet, serta sejumlah peristiwa bersejarah lainnya pada akhir 1980-an hingga paruh pertama 1990-an.

Kita mengalami pergolakan dalam waktu 72 tahun, bergulat menemukan titik keseimbangan antara semua dimensi kehidupan kita dalam satu sistem. Orde Lama berhasil membangun fondasi konstitusi kita, membangun dasar kehidupan bernegara, tetapi gagal dalam mewujudkan output yang diharapkan oleh rakyat dari institusi yang bernama negara, yaitu kesejahteraan.

Orde Baru datang dengan antitesis terhadap Orde Lama. Ada demokrasi di masa Orde Lama, tetapi tidak ada kesejahteraan. Orde Baru datang dengan satu tesis baru bahwa untuk mewujudkan kesejahteraan, diperlukan stabilitas dan untuk itu, diperlukan pemerintah yang kuat. Negara menjadi terlalu kuat di masa Orde Baru. Memang ada kesejahteraan tetapi ongkos dari kesejahteraan ini adalah reduksi demokrasi. Karena itu, orde ini juga berakhir ketika klaim kesejahteraan runtuh digerus krisis moneter 1997.

Reformasi datang dengan usaha mewujudkan sintesis bahwa kita bisa mewujudkan demokrasi dan kesejahteraan. Karena itu semangat zaman Reformasi adalah menolak kediktatoran dan menciptakan kesejahteraan tanpa perlu mengawalnya dengan senjata.

Setelah 20 tahun Reformasi, kenyataannya orang susah mempertemukan dua kata ini: “demokrasi” dan “kesejahteraan”. Kita lupa ide ini berhubungan dengan sistem lain, yaitu sistem ekonomi pasar bebasTak heran jika selama 20 tahun ini kita masih mencari titik temu antara negara, pasar, dan masyarakat sipil.

Ke mana kita melangkah?

Setelah kita membaca GPS posisi sekarang, lalu ke mana kita akan melangkah? Kita melihat fakta bahwa antara potensi yang kita miliki dengan apa yang sudah kita capai terbentang jarak yang sangat jauh. Sementara orang-orang di luar sana meramalkan Indonesia bisa menjadi perekonomian ke-4 atau ke-5 dunia dalam 30 tahun mendatang, kita di sini tidak merasakan hal itu. Langit kita masih terlalu tinggi, tetapi kita terbang terlalu rendah. Itulah kontradiksi terbesar saat ini.

Ketika dunia mengalami krisis ekonomi global pada 2008, hampir semua pemikir strategis berpendapat inilah akhir sistem kapitalisme global. Salah satu reaksi dari krisis itu adalah munculnya pemimpin “kanan jauh” di Eropa. Jika kita amati yang terjadi adalah penggunaan instrumen nasionalisme untuk melawan liberalisme, karena ternyata yang menikmati kesejahteraan sangat besar dari sistem ini adalah kaum korporasi yang tidak bertanah air.

Pembelahan dan ketimpangan ekonomi semakin tajam. Pada saat yang sama, kaum korporasi percaya mereka mampu membentuk global government karena merasa lebih kuat dari negara. Kemenangan Donald Trump menunjukkan bahwa yang miskin dan marah di Amerika bukan lagi imigran dan kaum kulit berwarna tetapi kaum kulit putih yang terpuruk kehilangan pekerjaan karena otomatisasi dan relokasi pekerjaan serta serbuan produk impor.

Artinya, dunia akan berada dalam satu ketidakpastian yang panjang. Ekonomi bertumbuh lambat, pergulatan sosial terus-menerus terjadi. Dunia seperti tidak ada pemimpin karena Amerika dan Barat pada umumnya sudah tidak bisa lagi melakukan mobilisasi besar-besaran untuk mendukung agendanya. Struktur kekuatan global sedang berubah menjadi nyaris datar dan multipolar. Dominasi ekonomi Amerika dibayangi China dan Barat tak berkutik melawan Rusia. Inilah momentum berharga yang harus bisa kita manfaatkan.

Arah baru

Inilah dunia yang kita hadapi sekarang. Ketika kita akan melangkah, kita bertemu dua fakta: dunia yang terbelah dan kita terbang terlalu rendah. Jika kita ingin terbang tinggi maka syaratnya adalah penguasaan ilmu pengetahuan yang kemudian diturunkan ke dalam pengembangan teknologi, kekuatan militer, dan penciptaan kesejahteraan.

Pada gelombang ketiga sejarah ini, Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan dunia jika kita memiliki arah baru dan peta jalan yang jelas. Yang pertama harus dilakukan adalah konsolidasi ideologi. Bagaimana kita mempertemukan empat komponen: agama, nasionalisme, demokrasi, dan kesejahteraan dalam satu kerangka ideologis. Ini berarti kita harus mengakhiri konflik antara Islam dan nasionalisme serta antara Islam dan negara. Kita juga harus bisa mempertemukan demokrasi dan kesejahteraan. Indonesia ke depan adalah bangsa yang religius, cinta tanah air, menghargai kebebasan, sekaligus sejahtera.

Yang kedua adalah pembangunan kapasitas negara di bidang ekonomi, teknologi dan militer untuk memastikan delivery kesejahteraan kepada rakyat. Kita membutuhkan paradigma dan mesin pertumbuhan ekonomi baru untuk melipatgandakan ukuran perekonomian dan membangun fondasi kesejahteraan jangka panjang. Sementara agenda darurat kita sekarang adalah segera keluar dari jebakan utang luar negeri.

Yang ketiga adalah mengubah pola aliansi dan kemitraan strategis global kita. Indonesia sejahtera pada masa Orde Baru karena bergabung dengan sistem kapitalisme global yang sedang berjaya. Untuk menjadi bangsa berdaulat dan sejajar di dunia, kita tidak boleh lagi hanya menjadi follower dari kekuatan besar, karena sekarang sedang tidak ada kekuatan dominan di dunia.

Untuk menjadi pemain utama dunia Indonesia punya dua daya ungkit (leverage) yang selama ini terabaikan. Leverage yang pertama adalah posisi sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Ke depan Indonesia harus menegaskan peran dan kepemimpinannya sebagai jangkar kestabilan wilayah.

Pengungkit kedua adalah Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Terbesar di sini tidak lagi dilihat dari jumlah penduduk, tetapi kekuatan ekonomi. Indonesia adalah negeri Muslim yang masuk G-20 bersama Turki dan Saudi Arabia. Namun, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) kita jauh lebih besar dua negara tersebut. Di sisi politik, pengalaman demokratisasi kita lebih dalam dan maju. Artinya, dari sisi ekonomi dan politik, kita memiliki legitimasi memimpin dunia Islam ke depan.

Dua kekuatan ini yang harus dimainkan dengan cantik di papan catur geopolitik dunia. Pada saat yang sama, kita harus terus bekerja keras memperkuat pilar-pilar ekonomi, teknologi dan militer nasional. Dengan itulah Sang Saka Merah Putih akan berkibar di langit dunia.

*)  Pengamat politik internasional.

Sunday, October 14, 2018

October 14, 2018

Menolak Kebenaran

Sebagian dari ayat al Qur'an ada yang disebut dengan ayat _mutasyabihat_ ll Karakter ayatnya adalah multi tafsir ll Kondisi ini sekaligus menyampaikan pesan pada kita semua bahwa Allah mau kita memberdayakan kemampuan akal kita untuk mendekati makna paling utama ll

Adanya ayat _mutasyabihat_ juga sekaligus menunjukkan terbukanya ruang _Ijtihad_ ll _Ijtihad_berlaku di ruang multi tafsir ini ll _Ijtihad_ dibutuhkan sekaligus menunjukkan _elastisitas_ Islam sebagai ajaran ll

Di ruang _ijtihad_ seharusnya tidak boleh ada yang _terjebak merasa _benar sendiri_ ll Silahkan saling menyampaikan argumentasi untuk akhirnya menemukan makna yang paling layak diikuti ll atau jika tidak, akhirnya bisa saling menghargai apa yang dipahami masing-masing ll

Saya jadi ingat sewaktu kuliah dulu ada pelajaran _adabul bahsi wa al Munazharah_, mengajarkan tentang etika diskusi untuk saling menguak satu masalah yang diperdebatkan ll

Dalam kehidupan sekarang ini, banyak hal yang kita tidak sepakat, karena masalah itu berada di ruang yang masih terbuka untuk diperdebatkan ll _ Ada qaidah "Kita sepakat pada hal-hal yang disepakati dan _tasamuh_ pada hal-hal yang kita saling tidak sepakat" ll Repotnya adalah ketika salah satu pihak _memaksakan_ bahwa apa yang dipahami atau apa yang dianutnya itulah kebenaran ll Sementara yang pada orang lain adalah kesalahan atau _najis_ yang layak dijauhi ll Kalau sudah begini maka perdebatan bisa mengarah pada perpecahan ll
___________
*Dari Mihrab Maya*, oleh ABDUL LATIF KHAN, pengasuh *Rumah Dakwah as Sakinah* dan Founder *Rumah Dakwah Indonesia online*

Friday, October 12, 2018

October 12, 2018

Harga Kalimat Tauhid

Episode-episode dalam perjalanan Dakwah
yang dilakoni terikat dengan benang merah _dakwah tauhid_ ll Harga Kalimat Tauhid itu, kata Sang Nabi saw _lebih mahal dari dunia dan isinya_ ll Keyakinan terhadap kalimat inilah yang dihujamkan mendalam ke dalam hati generasi utama itu ll Sehingga kita akhirnya dapat melihat " " _kegilaan_" para sahabat utama itu dalam mempertahankan keyakinan mereka terhadap kalimat tauhid ll ada Bilal ibn Rabbah, ada Mus'ab ibn Unair, ada Sa'ad Ibn Abi Waqqash dan banyak lainnya ll Sikap mereka terekam baik dalam episode indah generasi utama itu ll

Kalimat tauhid itu yang kemudian menjadi _jalinan nasab_ baru dan sejati di antara mereka ll Rangkaian jalinan itu muncul dalam bentuk _ketaqwaan_ yang menyudahi sikap _ashabiyah_ dan membentuk hubungan yang lebih lestari, _akhawiyah_ ll

Akhirnya mereka menghadap dunia sendiri atau bersama-sama, tetap saja dalam jalinan _akhawiyah_ yang unik ll _akhawiyah_ yang mengikat hati mereka ll inilah pertahanan yang kokoh , _shaffan ka annahum bunyanun marshush_ ll Mereka tidak menghadapi dunia dengan modal dunia, kekuasaan atau kekayaan ll Mereka datang pada dunia *bukan meminta tapi memberi* ll Itulah yang disebutkan Rib'iy ibn Amir, " _Kami mengajak kalian untuk keluar dari penyembahan makhluk menuju pada penyembahan Allah semata_" ll Dia tidak datang menjumpai Rustum dengan kemewahan, tapi dengan keyakinan ll

Keyakinan itulah yang seharusnya juga kita miliki ll Yang tak boleh membuat kita gamang ataupun _baper_ dalam dakwah ll Jika menyebut dirimu pejuang janganlah cengeng ll Jika menyebut dirimu da'i janganlah mudah mengeluh, apalagi menuntut ll Saat sahabat mengeluhkan beratnya beban dakwah, Sang Nabi saw menjawab _Dulu ada orang yang dihadapkan pada ujian dakwah yang berat. Kaki dan tangannya diikatkan pada empat ekor kuda dan kuda itu berlari ke empat penjuru. Sedikitpun ia tak mengurangi keyakinannya pada Allah. Ada yang dimasukkan ke ruang asap sampai mati. Dan dia tetap bertahan sabar._ ll Demi Allah, sepertinya kita harus banyak belajar dari generasi utama itu ll Terus dan terus meningkatkan keyakinan kita pada Allah ll Dengan resiko apapun ll
________________
*Dari Mihrab Maya*, oleh ABDUL LATIF KHAN, pengasuh *Rumah Dakwah as Sakinah*, dan Founder *Rumah Dakwah Indonesia Online*
October 12, 2018

Dakwah Fillsh itu...

Dakwah fillah itu adalah dakwah tauhid ll dakwah yang dibawa oleh Rasulullah Saw yang disampaikan kepada para sahabatnya dan diteruskan ke bawah ll dakwah Fillah itu dakwah yang mengajak manusia tunduk pada hanya menyembah Allah ll bersumberkan al Qur'an dan sunnah Nabi (itulah sumber asasi yang tak terbantahkan) ll

Dakwah Fillah itu tak boleh dibatasi menjadi dakwah kepada partai atau dakwah kepada ormas atau dakwah kepada orang tertentu belaka ll Dakwah fillah itu bahkan tidak boleh dikira dilakukan oleh orang tertentu, atau partai tertentu, atau ormas tertentu ll Dimana di luar sana, seakan tidak ada pelaku atau kegiatan dakwah yang sah ll

Dakwah Fillah itu akan menyatukan semua orang, bukan memisahkan ll Dakwah Fillah itu adalah dakwah cinta bukan kebencian ll dakwah fillah itu....
_____________
*Dari Mihrab Maya*, oleh Abdul Latif Khan, pengasuh *Rumah Dakwah as Sakinah*, dan Founder *Rumah Dakwah Indonesia Online*

Saturday, September 22, 2018

September 22, 2018

Sandi Uno, Ulama dan Tugas Sang Cendikiawan

MuslimOnline.Id-


Oleh : Dr. Syahganda Nainggolan, (Sabang Merauke Circle)


Beberapa hari ini kita diributkan pelabelan ulama pada diri Sandi Uno. Hal itu terkait dengan pernyataan Dr. Hidayat Nurwahid (HNW), bahwa merujuk Surah Al Fathiir 28 dan Assyura 197, di mana disebutkan bahwa ulama adalah orang yang berilmu dan sekaligus takut pada Allah, maka Sandi Uno termasuk seorang ulama.

Hidayat Nurwahid masih tetap saja pada keyakinannya bahwa Sandi memenuhi kriteria ulama. Tentu sejarah HNW yang besar dalam ilmu keagamaan, baik sebagai alumni pesantren terbesar di Indonesia, Gontor, maupun belajar agama hingga gelar tertinggi dunia akademik, doktor, di Arab Saudi, membuat pelabelan yang dia lakukan tidak dapat disepelekan.

Cendikiawan

Persoalan pelabelan ulama  ini bukanlah persoalan baru. Dr. Muhammad Imaduddin Abdurrahim, pendiri Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), misalnya, telah menghindari perdebatan ini ketika membuat wadah cendikiawan pada tahun 90an. Ketimbang wadah berlabel ulama yang akan sarat dengan kontroversi, para intelletual muslim tersebut memakai istilah cendikiawan.

Ketika ribuan doktor kaum muslimin memiliki keilmuan yang terdivisi dan terspesialisasi, sehingga fokus keilmuan begitu dalam dan detail, meskipun mereka juga takut pada Allah, namun karena mereka tidak atau belum terkoneksi dengan ajaran AlQuran sebagai sumbernya, secara keilmuan, Dr. Imaduddin lebih merasa pas melabelkan mereka sebagai cendikiawan.

Namun, bukan berarti seorang dokter ahli kebidananan, lebih tidak takut kepada Allah dibanding ahli tafsir, misalnya. Sebab, kedalaman dan kespesialisasian ilmu, justru dapat mengantarkan seorang ilmuan pada kepercayaan yang lebih tinggi pada Allah. Seorang dokter kebidanan misalnya bisa lebih nyata mengetahui perjumpaan sperma dan sel telur, lalu terbentuknya kehidupan, yang jika terkoneksi dengan ayat ayat AlQuran, akan membuat keimanannya sangat prima.

Dalam ilmu yang semakin hari semakin terspesialisasi, manusia tidak diharapkan lagi harus memiliki ilmu yang general. Jadi ilmu dalam spektrum apapun adalah ilmu. Ini mendorong alasan HNW bahwa Sandi Uno memiliki ilmu, meski bukan ilmu agama sebagaimana HNW.

Namun, karena kebanyakan ulama dikaitkan dengan kemampuan seseorang dalam ilmu agama, terkait pemahaman yang terhubungkan dalam kajian Quran dan Hadist, pandangan HNW ini tidak populer.  Dalam Encyclopedia of Islam, edisi kedua, oleh P. Bearman dkk, ulama disebutkan "  ...the term refers more specifically to the scholar of the religious sciences (fikih, mufassin, mufti, muhaddish, mutakallim) dan juga dikaitkan dengan " the guardians, transmitters and interpreters of religious knowledge, of Islamic doctrine and Law".

HNW tidak dapat disalahkan atas pandangannya tersebut. Dalam tradisi Syiah misalnya, drajat keulamaan mereka, ditunjukkan dengan berbagai tingkatan dengan merujuk pada pelabelan seperti Mullah, Ayatullah dan Imam.

Sebaliknya, dalam tradisi Sunni, di mana syuro atau majelis lebih mengakomodir kebersamaan ketimbang superioritas seorang imam.

Namun, memang lebih aman untuk memberikan label cendikiawan bagi orang berilmu dan sekaligus takut kepada Allah, jika seseorang tersebut tidak melakukan pendalaman ilmu keagamaan. Setidaknya, ini untuk menghindari debat yang tidak dibutuhkan.

Sandi dan Tugas Kecendikiawanan

Sandi Uno adalah cendikiawan. Hal ini merujuk pemikir sekaligus pejuang, misalnya, Antonio Gramscy, Imaduddin Abdurrahim, Ali Syariati, dlsb. Intinya cendikiawan adalah masyarakat atau orang yang tercerahkan, khususnya karena ilmu yang membuatnya mampu mendinamisir perubahan sosial.

Gramscy melihat cendikiawan berjuang untuk membangun dominasi kaumnya, tapi itu jika merujuk pada yang disebutnya "cendikiawan tradisional". Sedang cendikiawan yang disebutnya "organics", seperti kaum entrepreneur, mereka melakukan lebih dari sekedar untuk kelompoknya, yakni menginspirasi semua kelompok sosial untuk menerima "world view" yang mereka yakini. Mereka membuat sejarah bergerak, sebuah perubahan sosial. Sebuah kerja politik. Sebuah kerja yang mengantarkan perubahan yang berkarakter ekonomi kepada kultur.

Dalam perspektif Imaduddin Abdurrahim, pendiri ICMI dan pendiri Masjid Salman ITB, seorang cendikiawan melakukan tugas keilahian, karena Allah menciptakan orang2 berilmu akan diminta pertanggung jawabannya kelak diakhirat. Konsep cendikiawan dalam Islam tidak berhubungan dengan kepentingan material seperti pandangan Gramscy, tapi lebih pada terhubungkannya sang cendikiawan dengan perintah keilahian. Sebuah tanggung jawab yang sakral.

Jejak kehadiran Sandi di Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), di mana dia melalukan perubahan sosial bagi kebangkitan usaha kecil menengah dan kaum Boemipoetra,
lalu (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), lalu masuk ke Partai Politik, lalu ke pemerintahan DKI dan sekarang "running" sebagai cawapres, menunjukkan keterlibatannya dalam urusan urusan sosial dan perubahan sosial yang semakin dalam. Ini adalah bentuk kecendikiawanan.

Sandi menjalani sejarah kecendikiawanan yang dimaksudkan, baik dalam terminologi Gramscy maupun Islam.

Ulama vs. Ubaru

Sandi membantah pelabelan dirinya sebagai ulama. Dia menyebut dirinya u-baru. Ini mungkin adalah cara Sandi mengakhiri pergunjingan yang tak bermanfaat.

Sementara KH. Makhruf Amin, tetap yakin bahwa ulama itu adalah sosok seperti dirinya.

(Pengalaman pribadi penulis juga ketika sekali dan hanya sekali bertemu beliau di lt 3 kantor MUI jl. Proklamai, pada tahun 2012 menunjukkan sikap keulamaan beliau. Pada saat itu ketika penulis memberikan pandangan2 dukungan thd Jokowi pada putaran pertama  pilgub DKI, beliau menasehati saya agar tidak mendukung Jokowi, karena haram hukumnya. Saya sebagai cendikiawan meyakinkan dia bahwa Jokowi lebih baik dari Fauzi Bowo, inkumben dan ketua NU Jakarta saat itu.
Namun, KHMA mematahkan semua argumen saya melalui ayat ayat AlQuran, khususnya dikaitkan Ahok yang "membonceng" Jokowi, seorang kafir.)

Ulama, seperti Kyai MA, berbeda dengan cendikiawan, memang mengkaitkan semua pemikirannya langsung pada teks  AlQuran. Namun,  apakah seorang ulama seperti KHMA saat ini, yang mengejar posisi wapres (umaro), pandangannya tetap harus dijadikan referensi? Tentu ini butuh kepastian lanjut dari majelis ulama.

Lalu apakah "Ubaru" mempunyai makna?

Henry Timms dan Jeremy Heimans, dalam "New Power: How it's changing the 21st century", 2018, pada hal 26-27, mengisahkan tentang Gereja " The House for All Sinners and Saints", Denver, Collorado USA, yang diminati banyak kaum millenial. Keberhasilan Gereja ini menarik minat karena filosofi : "We're anti-excellencs, pro-participation".

Saat ini, menurut Timms dan Heimans, memang dunia bergerak ke arah perubahan besar, di mana hidup dan kehidupan harus memperluas kolaborasi, partisipasi, non affliasiasi, taransparan, informal, self organization, desentralisasi, "maker culture". Tentu Sandi memahami dalam dunia global tanpa batas ini, perubahan juga melanda Indonesia.

Mungkin Sandi ingin menunjukkan bahwa meskipun dia bukan ulama, tapi dia adalah seorang cendikiawan yang faham akan perubahan yang melanda masyarakatnya dan juga faham perubahan dunia yang sedang terjadi.

Jadi, "impian" keulamaan dari Hidayat Nurwahid pada Sandi, telah dipahami Sandi dalam sebuah tugas besar yang sesuai dengan jaman generasi Y dan Z, generasi millenial. UBARU, mungkin. Sandi, sebagai cendikiawan, pasti, Insya Allah, akan berhasil, berkolaborasi dengan kita, membangun bangsa kita menjadi bangsa maju.
September 22, 2018

12 Kesyirikan yang Dianggap Tradisi

MuslimOnline.Id- Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati anda, di tengah-tengah masyarakat kita masih banyak sekali praktek kesyirikan yang merusak bahkan membatalkan tauhid.

Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian orang dengan dalih bahwa amalan tersebut adalah tradisi dan adat-istiadat peninggalan leluhur.

Padahal perbuatan tersebut adalah bentuk kesyirikan yang membahayakan agama mereka.

Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah:

➡1. Tathayyur.

Tathayyur adalah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (Al-Qaulul Mufid)

Di sebagian daerah, penduduk membangun rumah menghadap arah tertentu. Mereka juga memulai membangun dan menempatinya di hari tertentu, dengan keyakinan akan mendatangkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan.

Ada pula yang tidak mau berdagang di hari tertentu dan melarang pernikahan di bulan tertentu. Semua ini adalah bentuk tathayyur syirik, harus dijauhi oleh seorang muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (HR. Abu Dawud no. 3910, lihat al-Qaulul Mufid)

➡2. Tamimah.

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah.

Sering kita melihat benda-benda yang digantungkan di rumah, mobil, toko, atau dipakaikan pada anak dengan niat menolak bala.

Semua ini termasuk jenis tamimah yang syirik. Orang yang melakukannya terjatuh dalam kesyirikan. (Lihat al-Qaulul Mufid)

➡3. Tiwalah.

Ia adalah sesuatu yang dibuat untuk membuat suami/seorang lelaki mencintai istrinya/seorang wanita atau sebaliknya.

Adapun dublah (cincin yang dipakai oleh seseorang setelah menikah) dengan keyakinan bahwa selama cincin emas tersebut dipakai maka pernikahannya akan tetap langgeng, ini adalah keyakinan yang syirik, karena tidak ada yang bisa membolak-balikkan hati manusia selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memakai cincin seperti ini minimal tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, haram hukumnya. Bisa juga terjatuh dalam kesyirikan, jika dia berkeyakinan bahwa cincin itu bisa menjadi sebab langgengnya pernikahan. (Lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid)

➡4. Jampi-jampi/mantra.

Yang dimaksud adalah ruqyah (bacaan-bacaan) yang syirik, yang mengandung permintaan bantuan kepada jin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang tiga hal di atas dalam hadits beliau:
“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Adapun ruqyah yang dibenarkan oleh syariat adalah yang memenuhi tiga syarat berikut: – Bacaan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan doa-doa yang baik.
– Menggunakan bahasa Arab dan dimengerti maknanya.
– Diyakini hanya semata-mata sebagai sebab, tidak bisa berpengaruh selain dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Fathul Majid).

➡5. Perdukunan.

Ini adalah musibah yang melanda banyak kaum muslimin. Banyak orang menjadi pelanggan dukun dalam keadaan senang ataupun susah, padahal ancaman bagi dukun dan yang mendatanginya sangat besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Barangsiapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Barangsiapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu kemudian membenarkannya, dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa mendatangi dukun ada beberapa rincian hukum,

↪1. Datang dan bertanya kepadanya, maka tidak diterima shalatnya empat puluh hari.
↪2. Datang, bertanya kepadanya, dan membenarkan ucapannya, maka ia telah ingkar kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
↪3. Datang untuk membongkar kesesatannya, diperbolehkan. (Lihat al-Qaulul Mufid).

Adapun tentang kafirnya dukun, asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami menyebutkan sembilan alasan kafirnya dukun.

Di antara yang beliau sebutkan adalah bahwa seorang dukun telah menjadi wali setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya….” (Al-An’am: 121).

Padahal setan tidak akan menjadikam seorang menjadi wali selain seorang yang kafir. (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 423-424).

➡6. Sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan bahwa termasuk orang yang dilaknat adalah seorang yang melakukan sembelihan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat (mencerca) dua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku pelanggaran syar’i. Dan Allah melaknat orang yang mengubah-ubah batas tanah.” (HR. Muslim)

Di antara sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berbagai bentuk sembelihan untuk jin.

↪a. Larung (sedekah laut)
Di antara sembelihan syirik adalah sembelihan tahunan yang dipersembahkan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik untuk laut (sedekah laut), sungai, gunung, maupun yang lainnya.

↪b. Sembelihan untuk pengantin
Di sebagian tempat ada sebuah tradisi penyembelihan ketika ada pernikahan. Kedua mempelai diperintahkan untuk menginjakkan kedua kaki mereka di darah sembelihan tersebut sebelum memasuki rumahnya.

↪c. Sembelihan untuk rumah baru
Di sebagian daerah, ketika telah selesai membangun rumah, mereka menyembelih seekor hewan. Sebagian mereka bahkan menanam kepala hewan tersebut di rumah barunya. Ini juga termasuk sembelihan yang syirik.

↪d. Memenuhi keinginan jin yang masuk pada tubuh seseorang
Ketika ada orang kerasukan jin kemudian diruqyah, jin terkadang minta disembelihkan hewan untuk dirinya. Jika terjadi hal demikian, permintaan jin itu tidak boleh ditunaikan, karena hal tersebut adalah sembelihan untuk jin. (Lihat al-Qaulul Mufid, asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi).

➡7. Kesyirikan di kuburan.

Di antara perbuatan syirik yang dianggap biasa adalah perbuatan-perbuatan di pekuburan sebagai berikut:

↪a. Berdoa kepada penghuni kubur
↪b. Nadzar untuk penghuni kubur
↪c. Isti’anah, meminta tolong kepada penghuni kubur
d. Isti’adzah, meminta perlindungan kepada penghuni kubur
↪e. Istighatsah, meminta dihilangkan bencana kepada penghuni kubur

Ketahuilah, semua hal di atas adalah kemungkaran yang harus diingkari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
“Barangsiapa melihat kemungkaran hendaknya dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) (Lihat Ma’ariful Qabul, Ighatsatul Lahafan, Tahdzirul Muslimin).

➡8. Mencari berkah dari benda-benda tertentu.

Sebagian orang mencari berkah kepada pohon, kuburan, atau benda-benda yang mereka miliki, seperti keris dan cincin.

📜 *Faedah*

Tidak boleh bertabarruk (mencari berkah) dari diri sereorang, dengan tubuh atau bagian tubuh seseorang tertentu, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Seorang muslim tidak boleh mencari berkah dengan diri seseorang yang dianggap shalih, baik ludah, rambut maupun bagian tubuh lainnya.

Hal ini berdasarkan beberapa alasan.

↪a. Hal tersebut kekhususan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
↪b. Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat yang meminta berkah dengan bagian tubuh Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Seandainya hal tersebut dibolehkan, niscaya akan dilakukan oleh orang-orang di zaman mereka.
↪c. Akan menyebabkan fitnah dan ujub (bangga diri) dari orang yang dimintai berkah. (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 144-145)

➡9. Sihir.

Sihir adalah satu amalan kufur yang harus dijauhi oleh seorang muslim.
Seseorang yang belajar dan mengajarkan sihir telah terjatuh dalam kekufuran.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manuria.” (Al-Baqarah: 102) (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 407-411).

➡10. Sedekah bumi.

Sedekah bumi yaitu memberikan sesuguh/sesaji ketika hendak panen padi dan lainnya. Menurut mereka, sesaji itu dipersembahkan untuk Dewi Sri. Ini pun termasuk bentuk kesyirikan.

➡11. Sesajen.

Yakni memberikan sesuguh untuk karuhun ketika hendak melaksanakan acara tertentu.

➡12. Memberikan penghormatan dengan membungkuk.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Membungkuk ketika memberikan penghormatan adalah perbuatan yang dilarang. Hal ini sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa mereka bertanya tentang seseorang yang berjumpa dengan temannya lalu membungkuk kepadanya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak boleh.”

Juga karena ruku dan sujud tidak boleh dilakukan selain untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, walaupun hal ini menjadi bentuk penghormatan pada syariat sebelum kita, sebagaimana dalam kisah Yusuf ‘alaihis salam:
“Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Yusuf pun berkata, “Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf: 100).

Adapun dalam syariat kita, bersujud tidak diperbolehkan selain untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/259).

Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati anda, apa yang kami sampaikan hanyalah sebagian amalan syirik yang ada di tengah-tengah masyarakat kita.

Semuanya harus kita jauhi.

Kita juga harus memperingatkan umat Islam untuk menjauhi amalan-amalan syirik.

Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati anda, segala adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat harus tunduk kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65).

Janganlah kita seperti orang-orang jahiliyah yang tidak mau beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dengan alasan mengikuti nenek moyang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang keadaan kaum musyrikin:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk? (al-Baqarah: 170).

Seorang muslim harus mendahulukan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segala hal. Dia harus mengutamakan syariat daripada hawa nafsu, adat-istiadat, dan pendapat akalnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang yang lebih mendahulukan hawa nafsunya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah: 23).

Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini bisa menjadi nasihat dan menjadi salah satu sebab musnahnya praktik-praktik kesyirikan yang telah menyebar di negeri kita ini.

📚 *[Faidah ini diambil dari tulisan Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak yang berjudul “Penyimpangan Akidah di Sekitar Kita” dalam majalah Asy Syariah no. 67/VI/1432 H/2010, hal. 48-53]*

Sumber: Perdana Akhmad Lakoni

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•

Tuesday, September 4, 2018

September 04, 2018

Siapa yang Enggan Masuk Surga?

MuslimOnline.Id-DARI sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga “ (H.R Bukhari).
Makna hadits ini bahwasanya umat beliau yang mentaati dan mengikuti petunjuk beliau akan masuk surga. Barangsiapa yang tidak mengikutinya berarti dia enggan masuk surga.777
Barangsiapa yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentauhidkan Allah serta istiqomah dalam syariat Allah serta menunaikan shalat, menunanaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, berbakti kepada kedua orangtua, menjaga dari perkara yang Allah haramkan seperti perbuatan zina, meminum minuman yang memabukkan, dan perkara haram lainnya, maka akan masuk ke dalam surga.
Karena orang tersebut telah mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang yang enggan dan tidak mau mentaati syariat maka maknanya orang tersebut enggan untuk masuk surga. Orang tersebut telah mencegah dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan amal keburukan yang dia lakukan. Inilah yang dimaksud makna hadits di atas.
Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati syariat Allah, serta mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap syariat yang beliau bawa. Beliau adalah Rasulullah yang hak, penutup para Nabi ‘alaihis shalatu wa salaam. Allah Ta’ala telah berfirman tentang Nabi-Nya,
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah menyayangimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran :31)
Mencintai Rasulullah adalah di antara sebab timbulnya rasa cinta Allah kepada hamba-Nya dan juga sebab datangnya ampunan, serta sebab masuknya hamba ke dalam surga. Adapun bermaksiat kepada beliau dan menyelisihi beliau merupakan sebab kemurkaan Allah dan sebab terjerumusnya seseorang ke dalam neraka. Barangsiapa melakukan yang demikian itu, dia enggan untuk masuk ke dalam surga. Barangsiapa yang menolak untuk mentaati rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia telah enggan untuk masuk surga.
Wajib bagi setiap muslim, bahkan bagi seluruh penduduk bumi, baik laki-laki maupun perempuan, baik jin maupun manusia, seluruhnya wajib mentaati syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti beliau, melaksanakan perintah beliau, dan menjahui seluruh apa yang beliau larang. Ini merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Allah Ta’ala berfirman,
مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ
“Barangsiapa yang mentaati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah “ (QS. An Nisa: 80)
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan sejelas-jelasnya” (QS. An Nur: 54)
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“(Al A’raf: 158)
Dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala berfirman
فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 57)
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS. Al Hasyr:7). []
SUMBER: MUSLIM.OR.ID

Monday, August 6, 2018

August 06, 2018

Makna Allahumma dalam Doa

MuslimOnline.Id-Berkata imam Baghawi RA : kalimat اللهم artinya adalah ياالله dibuang ya’ huruf nida’ nya dan digantikan dengan huruf mim.

Sebagian ulama berkata bahwa mim itu adalah huruf singkatan dari آمنا  jadi arti اللهم adalah YAA ALLAH KAMI BERIMAN PADA MU

Artinya sebelum doa kita mengulang iqrar akan keimanan kita

(Ket. Kitab Tasyyiidul bun-yaan karya Habib Umar bin Muhammad bin Thoha Asshifi Asseqaf).

Sumber status Ustadz Mufty Ahmad Ns

Sunday, August 5, 2018

August 05, 2018

8 Jenis Rezeki dari Allah

MuslimOnline.Id-  1.Rezeki Yang Telah Dijamin.

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya."
(Surah Hud : 6).

2. Rezeki Karena Usaha.

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(Surah An-Najm : 39).

3. Rezeki Karena Bersyukur.

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).

4. Rezeki Tak Terduga.

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(Surah At-Thalaq : 2-3).

5. Rezeki Karena Istighfar.

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).

6. Rezeki Karena Menikah.

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(Surah An-Nur : 32).

7. Rezeki Karena Anak.

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa' : 31).

8. Rezeki Karena Sedekah

‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
(Surah Al-Baqarah : 245).


August 05, 2018

Keluarga dalam Perspektif Al-Quran

Oleh : Dr H Zamakhsyari bin Hasballah Thaib Lc MA

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, keluarga dimaknai dengan “sanak saudara; kaum kerabat; orang seisi rumah; anak bini, batih.” Dalam bahasa Arab, kata keluarga sering disebut dengan usrah. Dalam Mu’jam al-Wasith, al-Usrah dimaknai dengan“perisai yang melindungi, keluarga dan kerabat seseorang, satu kelompok yang dihubungkan dengan satu ikatan kesamaan.” 

Kata “keluarga” sebagai sebuah istilah ilmu didefenisikan dengan beragam defenisi sesuai dengan ilmu apa yang dijadikan sebagai pisau analisisnya. Mustafa al￾Khassyab dalam kitabnya “Ilm al-Ijtima’ al-Aili” menjelaskan bahwa keluarga merupakan suatu unit yang menghimpun dan mengatur sekelompok orang yang bertanggung jawab menjaga kestabilan masyarakat dan perkembangannya.” 

Keluarga merupakan satuan terkecil dalam sebuah tatanan masyarakat.  Sedangkan masyarakat merupakan himpunan dari beberapa keluarga. Karenanya, baik dan buruknya suatu masyarakat sangat berkorelasi selaras dengan baik buruknya keluarga. 

Keluarga yang baik merupakan awal dari masyarakat yang sejahtera. Sebaliknya, keluarga yang amburadul dan kacau merupakan pertanda hancurnya sebuah masyarakat. Individu-individu yang baik akan membentuk keluarga yang harmonis. Keluarga￾keluarga yang harmonis akan mewujudkan masyarakat yang aman dan damai. 

Selanjutnya, masyarakat-masyarakat yang damai akan mengantarkan kepada negara yang kokoh dan sejahtera. Maka, jika ingin mewujudkan negara yang kokoh dan sejahtera bangunlah masyarakat yang damai. Dan jika ingin menciptakan masyarakat yang damai, binalah keluarga-keluarga yang baik dan harmonis.

Kata Usrah tidak pernah disebutkan dalam al-Qur’an dengan makna keluarga. Walaupun demikian, akar kata usrah disebutkan sebagian darinya dalam al-Qur’an. Hal ini tidak berarti Al-Qur’an tidak mendudukkan keluarga pada posisi yang strategis. Karena al-Qur’an banyak menggunakan beragam kata lain untuk menunjukkan makna keluarga. Ada kata ahl (أهل) yang bermakna keluarga disebutkan lima kali. Adapula kata ‘asyirah (عشيرة) yang juga menunjukkan makna keluarga sebanyak tiga kali. Ada lagi kata rahth (رهط) yang disebutkan dua kali.

Mengingat begitu pentingnya peran keluarga dalam menciptakan dan  merealisasikan masyarakat yang baik dan sejahtera, tidaklah mengherankan bagaimana al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar pada pembinaan keluarga. Karena seperti disinggung di atas- seandainya instrumen terpenting dalam masyarakat ini tidak dibina dengan baik dan benar, merupakan suatu kemustahilan mengharapkan terwujudnya sebuah tatanan masyarakat idaman.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah menciptakan dari Adam pasangannya Hawa, dan memerintahkan Adam  agar hidup tenang bersama istrinya. “diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini..” (QS. Al-Baqarah: 35)

Perintah ini sifatnya umum, artinya semua pria dari keturunan Adam akan merasa tenang jika mereka bersama dengan pasangan mereka. “tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu...” (QS. At-Thalaq: 6) Sebagaimana Allah menjadikan malam hanya sebagai sumber ketenangan (lihat QS. Al-An’am ayat 96), dan menjadikan rumah sebagai sumber ketenangan (lihat QS an￾Nahl ayat 80), Allah menjadikan pula isteri sebagai sebab ketenangan bagi suami dan sebaliknya menjadikan suami sebab ketenangan bagi isteri. “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya…” (QS. Ar-Ruum: 21)

Allah juga berfirman: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya…” (QS. Al￾A’raaf: 189)
Keluarga adalah sumber ketenangan bagi suami, ketenangan bagi isteri, dan tempat tumbuh kembangnya anak, dan tempat utama pendidikan. Sekiranya keluarga ini baik, maka akan baik pula ummatnya. Umat yang perduli dengan keluarga maka umat itulah yang akan sukses dalam kepemimpinan.

Untuk itulah, syara’ meletakkan aturan dan pondasi untuk melindungi keluarga dari berbagai aspek. Syara’ meletakkan batasan – batasan bagi kedua pasangan, baik hak maupun kewajiban. Memperhatikan dan peduli dengan pembentukan keluarga merupakan salah satu wujud syukur terhadap nikmat Allah.

Ada begitu banyak gambaran yang dipaparkan al-Qur’an tentang pernak pernik keluarga, dengan beragam problematika dan bentuknya. Tujuannya hanya satu agar kita mengambil pelajaran dan I’tibar darinya.

Ada gambaran ayah yang mendapatkan hidayah yang berkata kepada putranya: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami…” (QS. Huud: 42) Namun si anak tetap keras kepala, bahkan ia berkata kepada ayahnya: “anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS. Huud: 43)

“Nuh berkata: "tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang". (QS. Huud: 43) Begitulah kondisi si anak yang terus keras kepala dan membantah seruan tanda kasih sayang dan cinta ayahnya, hingga akhirnya ia tenggalam.
Adapula gambaran ayah yang mendapatkan hidayah yang terus memperhatikan dan peduli dengan pendidikan anaknya sedari kecil, agar anaknya menjadi anak yang saleh.

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman: 13) Lalu si ayah terus menasehati anaknya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 17-19)

Ada pula gambaran tentang anak yang mendapatkan hidayah yang berjumpa dengan ayahnya yang sesat. Bagaimana digambarkan si anak berupaya mengajak si ayah agar menerima jalan hidayah dan bersegera kepadanya.

“ingatlah ketika ibrahim berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan". (QS. Maryam: 42-45)

Walaupun mendapatkan penolakan dan kecaman keras dari si ayah, sang anak tetap tidak menyerah menyeru ayahnya dengan hikmah dan kebijaksanaan, bahkan ia terus mendoakan hidayah bagi ayahnya dan beristighfar untuknya.

Ibrahim berkata: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS. Maryam: 47)

Walaupun demikian, si anak tidak pernah sedikitpun ikut serta dalam kebathilan yang dikerjakan si ayah bersama kelompoknya. “dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah￾mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku". (QS. Maryam: 48)

Bahkan keseriusan si anak mendoakan si ayah tidak menghalanginya untuk  mencari tahu posisi doa dan istighfar tersebut dalam timbangan syara’, hingga akhirnya si anak sadar bahwa ayahnya telah menjadi musuh bagi Allah. “dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.” (QS. At-Taubah: 114)

Siapa yang membaca al-Qur’an akan menemukan contoh – contoh keluarga yangberagam, mulai dari keluarga Adam dan Hawa, hingga keluarga di masa turunnya wahyu, seperti keluarga Nuh as, Keluarga Luqman, Keluarga Ibrahim,  Al-Qur’an mengabadikan potret bagaimana seorang Ibrahim as sangat merindukan kehadiran seorang anak yang saleh, hingga dalam do’anya ia tidak pernah lupa memhon kepada Allah. Justru kemudian setelah dikaruniakan anak, Ibrahim diuji  dengan perintah untuk menyembelih anaknya.

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang￾orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffaat: 100-107)

Al-Qur’an juga membuat gambaran tentang persaudaraan dengan beragam problematika dan bentuknya. Ada gambaran du asaudara yang saleh, Harun bersama Musa as. Bagaimana Musa memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada Harun kenabian dan kerasulan.

“dan saudaraku Harun Dia lebih fasih lidahnya daripadaku, Maka utuslah Dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkata- an)ku; Sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku". Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, Maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang.” (QS. Al-Qashash: 34-35)
“dan Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan Dia kekuatanku, dan jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku,” (QS. Thahaa: 29-32)

Seorang saudara yang baik tidak pernah pelit untuk menasehati saudaranya yang lain saat ia membutuhkannya. “dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. dan berkata Musa kepada saudaranya Yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan". (QS. Al-A’raaf: 142).

Saudara yang baik tidak akan membiarkan saudaranya berada dalam kesalahan, bahkan mencoba mengembalikan saudaranya kepada kebenaran. “berkata Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti Aku? Maka Apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?" Harun menjawab' "Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): "Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku". (QS. Thahaa: 92-94)

Ada juga gambaran saudara – saudara yang diadu domba oleh syaithan, hingga tega melakukan pada saudaranya apa yang tidak sepantasanya dilakukan, walaupun kemudian yang bersalah bertaubat dan kembali pada kebenaran. Kisah Yusuf dan saudara – saudaranya yang membuangnya ke sumur tua. Walaupun saudaranya berbuat keburukan terhadapnya, tetapi Yusuf selalu mengingat kebaikan ayah dan saudaranya kepadanya, bahkan di saat ia berada dalam penjara sekalipun.

“dan aku pengikut agama bapak-bapakku Yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi Kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada Kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya).” (QS. Yusuf: 38) Yusuf sangat cepat memaafkan kesalahan saudara – saudaranya, “mereka berkata:  "Demi Allah, Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas Kami, dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Dia (Yusuf) berkata: "Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang". (QS. Yusuf: 91-92)

Bukti Yusuf memaafkan saudaranya, di saat keluarganya kesulitan memperoleh makanan, di saat musim paceklik, ia tetap membantu merea sebaik mungkin dengan kekuasaan dan otoritas yang dimilikinya. “dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku". (QS. Yusuf: 93)
Al-Qur’an juga membuat gambaran dua saudara, dimana di saat salah satu dari keduanya, hatinya dipenuhi dengan dengki dan iri kepada sauadaranya yang lain, akhirnya ia memusuhi sauadara yang mnyayanginya, bahkan berujung hingga si saudara tega membunuh saudaranya sendiri. “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu … Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.” (QS. Al￾Ma’idah: 27-30)

Selain itu, al-Qur’an juga dipenuhi dengan gambaran suami dengan isterinya. Ada gambaran suami istri yang sama – sama beriman, seperti keluarga Ibrahim dengan kedua isterinya Sarah dan Hajar. Ibrahim diuji dengan istri dan anaknya, dan keduanya memnggambarkan keteladanan dalam kesabaran yang luar biasa. Satu keluarga semuanya tegar menghadapi ujian keimanan dari Allah, mulai dari ayah, ibu, hingga anak. Belum lagi ujian Allah kepada istri pertama Ibrahim lambat memperoleh keturunan, hingga akhirnya karena usaha dan do’a akhirnya Sarah dan Ibrahim dikaruniakan Ishaq.

Ada pula gambaran isteri yang kafir, walaupun bersuamikan seorang suami yang menjadi nabi sekalipun, keimanan suaminya tidak dapat menyelamatkannya dari azab Allah. Seperti gambaran isteri Nuh dan Luth AS “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya):  "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)". (QS. At￾Tahriim: 10)

Adapula gambaran pasangan suami isteri yang sama – sama kafir yang saling bekerja sama dalam memperjuangkan kebathilan dan memadamkan kebenaran. Seperti gambaran keluarga Abu Lahab dan Isterinya Umm Jamil. “binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa. tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Masad: 1-5)

Adapula gambaran isteri yang mukmin yang diuji Allah menjadi pasangan bagi suami yang benar – benar tenggelam dalam kekufuran, hingga cahaya hidayah sulit masuk ke dalam qalbunya. Seperti gambaran Asiyah isteri Fir’aun yang terus memelihara iman dan kesuciannya. “dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang￾orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahriim: 11)

Al-Qur’an juga banyak bercerita mengenai masa kehamilan Isa as, masa kehamilan Yahya as, dan masa kehamailan Ishaq as. Selain itu, al-Qur’an juga bercerita tentang masa penyusuan dan pendidikan Musa serta Ismail as. Di samping itu, al-Qur’an juga menggambarkan tentang perjuangan para Ibu. Ada isteri Imran yang hamil, dan bernazar bahwa bayinya jika lahir selamat akan mengabdi di Baitul Maqdis. Ada juga ibunda Musa yang saat hamilnya diliputi rasa cemas dan takut, Fir’an akan membunuh anaknya, hingga kemudian Allah mengutus Jibril kepadanya dan memberikan ilham kepadanya tentang apa yang harus dilakukannya demi keselamatan putranya.

Sesungguhnya begitu banyak gambaran al-Qur’an bagi yang mau memperhatikannya. Setiap gambaran dan kisah mengandung begitu banyak pelajaran dan  ibrah yang sungguh saying untuk diabaikan. Al-Qur’an selalu menekankan bahwa iman dan amal salehlah bekal yang paling utama untuk membangun keluarga yang ideal. Karena hanya dengan iman dan amal salehlah suatu keluarga mampu bersabar menghadapi berbagai ujian Allah dalam kehiduapan. Kesabaran sebagai buah iman inilah yang akan menghilangkan rasa sedih, gundah, takut, dan problem kejiwaan lainnya.

Ujian Allah dalam kisah kelurga yang diabadikan dalam al-Qur’an merupakan ujian yang maksimal yang mampu dihadapi dengan semangat iman yang maksimal pula. Seharusnya, untuk menghadapi ujian yang lebih ringan dari itu, seorang mukmin harus siap dan sigap menghadapinya. Tidak ada yang menghadapi ujian dan cobaan terkait anaknya melebihi cobaan Allah untuk Ibrahim, Nuh, dan Ya’qub as. Tidak ada pendakwah yang menghadapi kesulitan dalam dakwahanya melebihi ksulitan yang dihadapi Musa, Nuh, dan Ibrahim. Tidak ada yang menjadi korban konspirasi melebihi Yusuf dan Ya’qub. Namun itu semua bagian dari lika – liku kehidupan yang perlu diambil ibrah darinya.

Dewasa ini, institusi keluarga dihadapkan dengan tantangan yang semakin kompleks, mulai dari upaya meredefenisi keluarga, tidak lagi hanya mencakup keluarga normal semata, namun beragam upaya dilakukan untuk mensosialisasikan pernikahan sejenis yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kampanye LGBT. Belum lagi tantangan terus meningkatnya angka perceraian di berbagai daerah, baik di Indonesia maupun dunia Islam secara keseluruhan. Dan banyak tantangan – tangan lainnya. 

Walaupun demikian, harus disadari di tengah situasi yang sulit seperti ini sekalipun, upaya menjaga institusi keluarga merupakan tanggung jawab kita semua.